Minggu, 06 September 2015

Impact - Chapter I (Reuni)

Summary : Kagome bertengkar hebat dengan sang kakak, Kikyo. Apa yang terjadi saat Inuyasha dan Sesshoumaru sebab pertengkaran mereka saat itu kini berada di tengah-tengah mereka?

Rated : T

 A/N: Hanya terjemahan dari my first fanfic yang sudah di posting sebelumnya, OOC characters.

Disclaimer : I do not own Inuyasha characters



Lagi-lagi kagome menghela nafas menatap tangga yang seakan tak berujung dari jendela mobil Sesshoumaru, sebuah tangan besar yang hangat membelai pipi kanannya lalu rambut hitamnya. Saat kagome menolehkan kepala, bibirnya yang hangat mengecup lembut pipinya sedikit menyentuh sudut bibirnya penuh perasaan, membuat semua masalah dan kecemasan Kagome sirna begitu saja. Digantikan dengan rona merah dipipinya dan detak jantungnya yang semakin kencang. Mata emas Sesshoumaru menatap mata biru Kagome seperti kehangatan matahari terbenam berbenturan bertemu dengan dalamnya laut biru, menciptakan kebutuhan untuk selalu dekat dengannya di dalam diri Kagome.

Apa itu tadi? Dia menciumku? Hampir! Apakah dia sengaja? Bibirku hampir tersentuh oleh bibirnya, oh Kami-Sama wajahku pasti semerah tomat sekarang. Okay Kagome tenang, tetap tenang. Siaaal, rasanya aku ingin menjerit kecil. Ada apa sih dengan aku? Kagome! Tetap tenang, Kamu lupa ya dia mempunyai pendengaran yang melebihi manusia? Dia pasti sedang mendengarkan detak jantungmu yang kacau saat ini, dan itu pasti sangat memalukan!

Alisnya terangkat keatas beberapa saat, Kagome tidak bisa menutupi keterkejutannya tatapannya masih melekat pada Sesshoumaru. "Mm.. terima kasih untuk tumpangannya" wajahnya terasa seperti terbakar oleh tatapan Sesshoumaru, dia tersenyum canggung lalu menunduk. Disaat itulah kecemasannya kembali, dia menghela nafas “ Semuanya akan baik-baik saja” bisiknya, mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Jangan khawatirkan hal itu" Sesshoumaru berkata dengan nada dingin seperti biasa, tetapi kata-katanya dan sikapnya membuat hati Kagome hangat. Semua itu sangat berarti baginya, walaupun terlihat seperti hal kecil tapi itu akan menjadi besar bila dia mendapatkannya dari Sesshoumaru. Youkai yang dingin, tapi itu bukan berarti dia tidak berperasaan hanya saja dia tidak terlalu mempertunjukkannya di hadapan orang lain.

“Iya kau benar” Kagome tersenyum lalu melangkah keluar, dia terhenti sebelum menutup pintu mobil membungkuk lalu berterima kasih sekali lagi. "Thanks Sesshoumaru" dia tersenyum, Sesshoumaru hanya mengangguk dia kembali lagi ke cangkang dinginnya. Kagome menutup pintu, dia berdiri di tepi jalan menunggu mobil hitam milik Sesshoumaru hilang dari pandangan. Kali ini Sesshoumaru tidak bisa mampir karena ada urusan penting yang harus dia bicarakan dengan ayahnya yang seorang CEO dari perusahaan besar Taisho dan juga Dai youkai yang disegani tak hanya di wilayah barat tetapi diseluruh Jepang.

Di zaman modern Jepang ini Youkai ada, tapi hanya Dai youkai atau youkai kelas atas seperti Keluarga Taisho yang mempunyai daerah kekuasaan besar di wilayah Barat Jepang. Tidak hanya itu mereka juga mempunyai perusahaan besar, salah satu yang terkuat di garis ekonomi Jepang. Walaupun mereka adalah youkai yang hidup di tengah-tengah manusia mereka tidak menutupi tanda-tanda mereka sebagai youkai agar dapat membaur dan terlihat seperti manusia. Garis magenta di pipi atau tanda bulan berwarna keunguan di dahi mereka, karena mereka adalah keturunan Dai youkai mereka terlalu bangga kepada dunia untuk menutupi tanda mereka agar terlihat seperti manusia. Kagome sering berpikir kalau youkai seperti mereka selalu merasa lebih kuat dalam segala hal dibandingkan dengan manusia, sehingga mereka sering memandang rendah manusia. Mereka senang sekali mengintimidasi manusia, walaupun itu hanya sebagian. Sesshoumaru adalah contohnya, saat pertama bertemu dengannya yang diberikannya hanyalah tatapan yang tajam menusuk, tatapan yang tidak membuatmu nyaman dan ingin segera menjauh.

Saat masih sekolah Kagome sering mengunjungi rumahnya, karena Kagome bersahabat dengan Inuyasha. Saat itulah pertama kali Kagome bertemu dengan Sesshoumaru yang dingin, arogan, dengan angkuh memberikan tatapan tajam. Inuyasha tidak pernah bercerita banyak tentangnya, walaupun Inuyasha and Sesshoumaru hanya terpaut satu tahun sama seperti dirinya dan Kikyo. Inuyasha tidak begitu akur dengan kakaknya, mereka adalah rival hampir di segala bidang. Secara kebetulan Kagome kuliah di universitas yang sama seperti Sesshoumaru untuk menjauh dari kakaknya dan Inuyasha, semenjak itulah keadaan berubah 180 derajat. Sesshoumaru hampir seperti obat baginya, bersamanya tak pernah terbayangkan menjadi begitu nyaman dan semua itu berjalan begitu saja, secara alami. Dia perhatian dan baik, dengan caranya sendiri.

Dia tidak tahu sejak kapan Sesshoumaru perlahan tumbuh semakin besar di hatinya, tentu saja pada awalnya Kagome menyangkal perasaannya. Tapi sekarang dia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melawan perasaannya sendiri, walaupun begitu dia masih sangat takut. Takut untuk terluka oleh hal yang sama untuk kedua kalinya, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Pikirannya mengalir ke persahabatannya dengan Inuyasha yang tidak begitu baik semenjak kejadian itu, dia sama sekali tidak berkomunikasi dengannya. Perasaan atas kehilangan sahabat itu sangat menyakitkan, Kagome sering menyalahkan dirinya sendiri. Tapi siapapun mengetahui bahwa hati tidak mempunyai aturan untuk mencintai atau tidak mencintai seseorang, bersahabat dengan lawan jenis baik itu youkai, hanyou, ataupun manusia akan bermuara kepada perasaan yang dinamakan cinta. Baik dari kedua pihak ataupun hanya dari salah satu pihak, cepat atau lambat. Itu sebuah hal yang pasti sama pastinya dengan tetesan hujan yang akan jatuh ketanah. Pikirannya mengali begitu deras sehingga kenangan pahit itu muncul lagi kemudian berputar diotaknya seakan film dengan warna suram.

“INUYASHA!!!” Kikyo berteriak, sorot matanya yang penuh kebencian berpaling kepada Kagome.

“Kau, anak manis yang dicintai semua orang...” Kikyo menunjuknya dari ambang pintu, Kagome hanya bisa terpaku ditempat Kikyo mendekatinya dengan mata memicing.

Tangannya terkepal, dia berhenti tepat di depan wajah Kagome. “Ternyata kau hanyalah seorang pecundang yang suka menawarkan diri kepada pacar kakaknya” satu sudut bibir Kikyo terangkat, sebuah senyum yang dingin. “Aku... benar-benar... membencimu Kagome!” setiap kata diucapkan secara perlahan namun tajam, kata-kata itu seakan berubah menjadi duri yang kini timbul di dalam dada Kagome.

Inuyasha kini berda di antara kedua kakak beradik itu “Aku sangat berharap kau tidak pernah dilahirkan!

Langkah Kagome terhenti dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba mengusir ingatan yang amat sangat ingin dia lupakan, dia menghela nafas berat. "Aku bukan anak SMA lagi, aku sudah dewasa sekarang aku bisa membela diriku sendiri" dia berkata mantap.

Satu demi satu anak tangga yang dipijaknya membawanya kedalam kenangan masa kecil, setiap pulang sekolah dia selalu menghitung anak tangga. Dia menjadi murid yang paling pintar berhitung di taman kanak-kanak karenanya. Angin sepoi-sepoi bertiup memainkan rambut hitam pekatnya yang indah, dihadapannya terbentang halaman kuil yang luas tempatnya bermain dengan kakaknya. Segala kenangan indah masa kecil memenuhi pikirannya, membuatnya tanpa sadar tersenyum. Tiba-tiba dia rindu akan masa kecilnya saat tidak ada masalah rumit yang menyelubunginya dan dia memiliki seorang kakak yang melindungi dan menyayanginya, lamunannya terhenti di ambang pintu sesaat ia membunyikan bel ibunya sudah membukakan pintu.

"Tadaima" seru Kagome ceria.

"Okaeri Kagome" Kagome langsung menghambur kepelukan ibunya, sudah lebih dari tiga bulan yang lalu semenjak terakhir kali mereka bertemu karena dia disibukkan oleh tugas kuliah.

"Mama" senyum lebar menghiasi wajahnya saat memandang wajah ibunya, mereka berjalan masuk kedalam rumah.

"Kamu pasti lelah, kamu mau istirahat dulu atau mandi?” mata lembut ibunya tak lepas menatap anak yang dirindukannya.

“Sepertinya aku memilih mandi dulu” Kagome merasa sangat beruntung mempunyai ibu sepertinya.

“Baiklah ibu akan menyiapkan air panas untukmu" katanya sambil menepuk pelan lengan Kagome.

"Arigato mama" Mereka berjalan keruang tengah tempat Sota menunggunya untuk memberikan pelukan hangat dan dengan bersemangat menceritakan betapa sepinya rumah tanpa Kagome.

"Kagome, apakah kau membawakan sesuatu untukku?" kakeknya muncul dari belakang Kagome membawa suatu kotak yang masih tertutup debu, seperti biasa pasti suatu benda keramat peninggalan leluhur.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku kek, aku baik-baik saja disana, and aku sangat merindukanmu” Kagome memeluk kakeknya yang antik “walaupun sepertinya kakek tidak merindukan aku sama sekali" Kagome tertawa kecil sambil memberi kakeknya sebuah kantung kertas yang berisi satu pak kue beras kesukaannya.

"Kau sudah sampai, Kagome" suara wanita terdengar dari ambang pintu ruang tengah tempat mereka berkumpul, tanpa menoleh pun Kagome tahu bahwa itu suara kakaknya Kikyo. Dia tersenyum lalu memberinya pelukan hangat "Sekarang keluarga kita sudah lengkap" katanya ceria, tanpa sadar Kagome memicingkan mata tak percaya keramahan yang baru saja ditunjukkan oleh kakaknya. Baiklah, mari kita bermain sebuah permainan yang berjudul ‘Kita Baik-baik Saja’pikir Kagome.

"Hai" lalu Kagome mengikuti ibunya yang menggiringnya ke kamarnya, untuk beristirahat.

Dia berendam dalam air hangat dengan bermacam-macam pikiran memenuhi kepalanya, semuanya bergulir tidak seperti yang dia perkirakan. Dia sudah mempersiapkan diri untuk perang dingin yang akan dia hadapi dengan kakaknya tetapi yang terjadi justru sebaliknya, dia ramah kepadanya seperti dulu saat mereka kecil. Apakah Kikyo telah lupa pertemuan terakhir mereka? pertengkaran hebat mereka? Semenjak SMA Kikyo dan ramah tidaklah serasi dingin lebih cocok untuknya.

Dialah sebab Kagome enggan menghabiskan waktu liburan dirumahnya, dia takkan pernah lupa kata-kata yang menyayat hati yang Kikyo lontarkan kepadanya dahulu. Butuh waktu lama untuknya membangun kembali kepercayaan dirinya, dia tidaklah dangkal seperti apa yang Kikyo tuduhkan padanya dan dia tidak mencoba mendekati Inuyasha. Dia tidak pernah menawarkan dirinya kepada pacar kakaknya sendiri! Walaupun saat itu dia mencintai Inuyasha jauh sebelum Kikyo mengenalnya, tetapi dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, hanya melihat Inuyasha dan Kikyo bersama saja sudah teramat sangat menyakitkan baginya.

Mereka makan malam dengan tenang, terlalu tenang menurutnya tidak seperti biasanya.

"Bagaimana dengan teman-temanmu disana Kagome?" ibunya memecahkan keheningan.

"Mereka luar biasa mama" ibunya tersenyum.

"Aku amat sangat beruntung memiliki teman-teman yang selalu ada untukku, semuanya sempurna" jawab Kagome ceria kemudian suasana kembali dalam keheningan yang kaku, entah mengapa dia masih tidak nyaman dengan keadaan dia dan Kikyo sekarang ini.

"Mama, kau belum menepati janjimu untuk membantuku mengumpulkan potongan berita yang aku cari untuk tugas sekolahku” Souta merengut.

“Aku akan membantumu Souta” seru Kikyo semangat, masih dengan senyum yang sepertinya tidak akan pudar hingga makan malam bersama keluarga malam ini selesai.

“Terima kasih kak, tapi sepertinya masih ada sesuatu yang penting yang aku lupakan di bulan ini ma..” belum sempat ibunya menjawab pertanyaan Sota.

"Mama presentasiku yang kemarin kuceritakan kepadamu di telepon mendapat pujian dari dosen yang terkenal paling perfectionist di kampusku" Suara Kikyo dengan riang yang dibuat-buat meminta perhatian.

Dan begitulah semua perhatian kembali kepada Kikyo si sempurna yang lulus dengan nilai sempurna mempunyai kecantikan yang sempurna, seperti itulah seharusnya. Ya benar, ini akan menjadi liburan menyebalkan yang sangat panjang! kagome tenggelam dalam pikirannya lalu menyibukkan diri dengan makanan di hadapannya.

Akhirnya dia bisa sendirian, betapa dia rindu dengan kamarnya. Kagome berbaring telungkup di ranjang banyak pikiran yang bersemayam di kepalanya. Betapa tidak nyamannya hubungan dia dengan Kikyo, apakah dia harus membicarakan masalah itu lagi dengan Kikyo? Meluruskan kesalah pahaman yang ada, atau dia membiarkan saja keadan seperti ini? Kaku, dingin, dan tidak nyaman. Andai saja ada cara agar mereka bisa seperti semula. Apa harus Kagome yang memulai? Tidak akan! Pikirannya jelas-jelas menolak bisikan hatinya, jika ada orang yang harus meminta maaf itu pasti Kikyo. Andai saja ibunya mengetahui permasalahannya dengan kakaknya, dia ingin sekali meminta nasehatnya. Tapi bila ibunya belum tahu? Dia akan sedih, Kagome tidak ingin hal itu terjadi.

-----*****-----

Keesokkan harinya pagi teramat cerah untuk dilewatkan begitu saja dengan bermalas-malasan di ranjang, matahari baru mengintip di kaki langit tapi Kagome sudah berada di dapur. Baru saja dia menyiapkan teh saat Kikyo muncul dibelakangnya.

"Apa yang ingin kau buat untuk sarapan Kagome? tanyanya

Kagome melonjak terkejut akan kehadiran Kikyo yang tiba-tiba dibelakangnya, dia sudah rapi dengan jeans and kaos berwarna putih.

"Aku bisa membantumu" kedua alisnya terangkat menunggu jawaban Kagome yang hanya menatapnya.

"Aku hanya akan membuat tamagoyaki, tidak apa-apa aku bisa melakukannya sendiri" Kagome tersenyum kecil.

"Baiklah kalau begitu" Kikyo mengangkat bahunya, kemudian berlalu pergi.

Setelah kepergian Kikyo dia tenggelam di dalam pikirannya sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang dia miliki. Kagome mencoba mengerti perasaannya sendiri, akan situasi yang terjadi dengan kakaknya. Sepertinya dia sudah menganggap kejadian itu tak pernah terjadi tapi, apakah dia masih marah padanya? Bagaimana dengan Inuyasha? Hal yang paling penting sebenarnya adalah, apakah kagome masih padanya? Sejujurnya dia merasa kalau dia masih marah kepada kakaknya, tapi sepertinya dia sudah berubah menjadi Kikyo yang dulu. Kagome rasa dia bisa dan harus memaafkannya, dan berpura-pura bahwa petengkaran itu tidak pernah terjadi. Untuk saat ini itulah yang terbaik, pikir Kagome.

"Kagome" suara ibunya sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat. Sarapan sudah hampir siap, Tamagoyaki menunggu untuk dihidangkan di meja. "Itu terlihat lezat sekali!" ibunya membantu Kagome mempersiapkan piring di meja "Terima kasih telah membantuku Kagome" senyum manis terpasang di wajahnya. Dengan hitungan menit semua hidangan sudah siap di meja makan.

Sekarang kau duduk dan minum the itu" ibunya memegang bahunya menuntunnya untuk duduk di kursi, lalu dia duduk di depan Kagome. "Sesshoumaru sangat beruntung memiliki Anda" senyum lebar menyebar di wajah lembutnya, Kagome batuk dan kemudian dia menyeruput teh nya.

Ibunya memang sepertinya menyukai Sesshoumaru saat pertama kali dia berkunjung beberapa minggu yang lalu.

"Mama!” Kagome hampir saja menyemburkan teh yang dia minum, dengan cepat dia menutupi rasa malunya dan pura-pura tidak mengerti apa yang ibunya maksud. “Ya aku beruntung berteman dengannya, dia sering membantu tugas kuliahku” Kagome menunduk untuk menutupi wajahnya memerah.

"Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi, sepertinya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya" ibunya menatap lembut Kagome, dengan senyum jenaka.

“Itu baru beberapa minggu yang lalu, mama” Kagome masih menunduk melihat daun teh di cangkirnya. Beberapa minggu yang lalu Sesshoumaru mengantar Kagome ke rumahnya, ibunya sangat antusias mengajak Sesshoumaru berbincang. Sudah lama ibunya ingin melihat bagaimana rupa kakaknya Inuyasha yang selama ini diceritakan anak-anak perempuannya.

"Aku ingin lebih mengenalnya, karena dia begitu susah dibaca" kedua alis ibunya berkerut.

“Dia bukan buku, ma” protes Kagome dengan suara manja.

“Memang bukan, karena itu aku ingin lebih mengenalnya” ibunya melemparkan tatapan jahil pada Kagome.

"Sebenarnya dia sangat baik mama, dia memang pendiam, dan menurut orang kebanyakan dia hampir selalu memakai ekspresi wajah datar yang sama. Tapi tidak bila kau telah mengenalnya lebih dekat mama, mama akan dengan mudah membaca lewat matanya” Kagome menyeruput tehnya lagi sebelum melanjutkan “Matanya begitu penuh ekspresi atas apa yang dia rasakan" tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat.

“Cara dia berbicara, gerak-geriknya...” matanya bergerak-gerak kesudut kiri menunjukkan bahwa otaknya berusaha mengingat apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan "Sikapnya yang hampir selalu tenang, dia sangat dewasa.." melihat Kagome ibunya tersenyum

"Kau benar-benar mencintainya Kagome" kata-kata ibunya lebih seperti pernyataan daripada sebuah pertanyaan.

Tanpa menjawabpun dia mengetahui jawabannya, lagi-lagi wajahnya memerah mendengar apa yang baru saja ibunya katakan tapi dia berusaha mengacuhkannya. Dia menyeruput tehnya, menyembunyikan wajahnya dari pandangan menyelidik ibunya yang sepertinya belum puas menggodanya.

“Jadi, kapan pernikahannya?” nada ibunya penuh canda.

"Mama!!" Kagome hampir tersedak, dia terbatuk-batuk sesaat. Kini wajahnya lebih merah dari sebelumnya. "Mama, Sesshoumaru adalah anak tertua dari Inu No Taisho. Youkai wanita manapun yang akan menjadi pasangan Sesshoumaru pasti akan sesempurna dirinya” Kagome terkejut dengan apa yang dia ucapkan, mengapa dia merasa terganggu dengan fakta itu? Seorang youkai wanita dari keluarga Dai youkai yang lainlah yang akan menjadi pasangan Sesshoumaru. Bukankah itu dengan mudah ditebak oleh siapapun? Tetapi mengapa sekarang dadanya terasa sakit?

"Dan aku beruntung bisa menjadi salah satu orang yang dipercayai olehnya, menjadi temannya” keraguan terkandung di suara lembutnya, ibunya yang menatanpnya lembut tertawa kecil.

“Semua itu hanya masalah waktu sayang” entah apa yang dia maksudkan, dia menepuk-nepuk tangan Kagome.

"Aku harap Kikyo bahagia sepertimu" ibunya menghela nafas berat, kemudian keheningan yang canggun sesaat "Baiklah, aku akan memanggil semuanya kalau sarapan sudah siap" ibunya berkata sambil berlalu.

Kikyo tidak bahagia? Mengapa? Apakah dia dan Inuyasha  putus? Semua yang aku tahu adalah Inuyasha begitu mencintainya, dia akan melakukan apa saja untuknya bahkan jika dia memintanya untuk memotong telinga  anjingnya yang lucu, aku yakin Inuyasha akan melakukannya. Yah, mungkin dia menyebalkan bila bersamaku, tetapi ketika dia bersama Kikyo ia berubah menjadi seseorang yang berbeda. Dia lembut, perhatian, protektif, dan dewasa. Aku tidak pernah melihatnya berteriak kepada Kikyo seperti yang dia selalu lakukan ketika berdebat bahkan karena hal-hal kecil. Begitu pula dengan Kikyo yang menjadi pribadi yang lebih hangat bila bersama Inuyasha, dia lebih banyak tertawa! Secara keseluruhan mereka adalah pasangan yang sempurna, mereka saling mengisi dan melengkapi kekosongan yang ada pada diri masing-masing, dan itulah yang membuat ikatan mereka kuat. Dulu aku sangat cemburu kepadanya, karena aku mencintai Inuyasha yang lebih tertarik kepada kakakku sendiri. Cinta? Benarkah itu?Aku rasa itu bukan cinta, mungkin saat itu aku hanya naksir. Naksir atau cinta monyet yang aku miliki untuk sahabat karibku. Satu hal yang pasti, aku akan bahagia bila mereka berdua bahagia.
.
Setelah sarapan Kagome menghampur ke kamarnya, disaat itulah sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dengan terburu-buru dia menerima panggilan itu tanpa mengecek siapa si penelpon, kekecewaan memenuhi hatinya saat dia mendengar suara Ayumi bukan laki-laki yang dia harapkan. Walaupun begitu, bukan berarti dia tidak senang temannya menelepon. Sebenarnya dia sangat merindukan mereka Eri, Yuka dan Ayumi. Ayumi mengajak Kagome ke mall favorit mereka, dia akan menjemput Kagome tepat jam satu siang. Dengan cepat Kagome menyanggupinya, dia tidak perlu alasan lain untuk menghindari situasi aneh dan canggung serumah dengan kakaknya yang sekarang ‘teramat ceria’. Setelah panggilan berakhir, Kagome tertawa kecil membayangkan interogasi yang akan mereka lakukan. Cara apapun yang mereka akan lakukan, dia tidak akan membuatnya mudah untuk mereka kali ini. Dia akan menjadi narasumber yang alot, sebelum mereka mentraktirnya di Wcdonald.

Pikirannya terbang jauh meninggalkan ruang kecil yang dicintainya, lalu pikirannya membawanya ke tempat pertama kali mereka mulai berbincang. Di bawah sebuah pohon besar yang sangat rindang, terletak di depan kantin kampus. Tempat yang tidak begitu ramai, disitulah tempat Kagome dan Sesshoumaru pertama kali berbicara walaupun dengan dibumbui dengan kesombongan seorang youkai dan kekeras kepalaan seorang gadis yang baru saja patah hati.

Kagome sedang duduk sambil memainkan apelnya, dia melemparkannya dari satu tangan ke tangan yang lain. Matanya menerawang jauh ke depan, dia begitu tenggelam dalam lamunannya sehingga tidak menyadari bahwa Sesshoumaru sudah duduk di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan Kagome?" dia bertanya dengan nada dingin.

"Apa?" dia sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksudkan.

“Apa universitas ini tidak cukup luas bagimu?” sindir Kagome, matanya menyelidik youkai yang duduk berjarak satu meter disampingnya.

Sesshoumaru sama sekali tidak mengindahkannya, tidak peduli dengan gadis sebelahnya yang kini mengerucutkan bibirnya.

“Kesedihanmu itu tidak beralasan” kesombongan tepancar jelas dari suaranya.

‘Apa yang dia maksud itu hubunganku dengan Kikyo dan Inuyasha?’ dia pikir.

“Kamu tidak mengerti sama sekali apa yang aku rasakan dan jangan pernah menasehatiku tentang apa yang harus aku rasakan dan apa yang tidak!” bentak Kagome dengan sengit “ Karena kamu tidak tahu seperti apa rasanya...” suaranya tenggelam.

Sesshoumaru tidak memandang lawan bicaranya, kata-kata selanjutnya bagai dia sampaikan kepada angin yang bertiup semilir. “Patah hati?” wajahnya seakan geli menyebutkan kata-kata tersebut, penghinaan jelas terbaca dari nada suaranya.

“Silahkan, tertawalah! Tertawalah sepuasmu, kau tidak tahu dan kurasa kau tidak akan pernah tahu. Youkai dingin, arogan, dan sombong sepertimu bahkan tidak punya hati untuk merasakan apapun” Kagome benar-benar di puncak amarah, tanpa takut dia berbicara bahkan setengah berteriak kepada Sesshoumaru yang tidak hanya disegani manusia tetapi juga oleh para youkai lain.

Sesaat kemudian dia baru menyadari apa yang dilakukannya, sekejap perasaan takut itu menyelinap di dalam hatinya. Takut akan apa yang bisa dengan mudah Sesshoumaru lakukan, atas apa yang diucapkannya. Tapi rasa takut itu segera menghilang setelah melihat wajah sombong pangeran es di sampingnya, ingin sekali dia menghinanya bila suatu saat nanti dia merasakan apa yang saat ini dia rasakan. Andai dia bisa menyaksikan suatu saat nanti terjadi, dia akan tertawa puas di hadapannya.

“Menyedihkan” Sesshoumaru berkata dengan jijik.

"Tidak begitu menyedihkan merasakan apa yang aku rasakan saat ini" kesedihan mulai menggelantungi lagi hatinya, tetapi nada suaranya menantang.

"Kamu bahkan tidak benar-benar mengetahui apa yang kamu rasakan" suaranya dingin, dia memperhatikan Kagome dari sudut matanya.

"Dan.. kau pikir kau lebih mengetahui perasaanku lebih baik dibandingkan diriku sendiri?” Kagome tidak habis pikir apa yang dipikirkan youkai menyebalkan itu saat ini, mereka benar-benar saudara pikirnya. Dia dan Inuyasha benar-benar bisa menjadi teman yang amat sangat menjengkelkan.

Sesshoumaru menoleh, pada pertama kalinya pandangan mereka bertemu. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Kagome, dia seperti terhipnotis. Entah karena mata emasnya itu begitu hangat, sangat kontras dengan seluruh penampilan, suara, dan sikapnya yang dingin. Atau mungkin karena mata yang tidak dapat disangkal sangat indah itu sangat mirip dengan mata Inuyasha?.

“Iya” jawabnya pendek, suaranya penuh dengan kepercayaan diri. “Kamu akan lebih merasa sedih bila kamu kehilangan orang laing selain dia” entah mengapa saat itu dia tergelitik untuk berpikir bahwa ada arti lain dari ucapan Sesshoumaru.

Kagome ingin sekali tertawa keras di depan wajahnya, dia ingin sekali menyangkal pernyataannya barusan dengan keras kepala. Kagome sangat ragu dengan segala yang dia dengar, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya adalah “Buktikan!” dia menantangnya!

End Of Flashback

Untuk beberapa alasan semenjak itu mereka lebih sering bertemu, dan disinilah Kagome sekarang jatuh cinta kepada pangeran es.

Kagome mandi sebelum pergi dengan teman-temannya, dia sedang berada di tengah-tengah tangga menuju ke atas saat dia melihat seseorang muncul dari balik pintu kamarnya, dan orang itu adalah Kikyo! Pandangan Kikyo tertunduk, wajahnya diselimuti oleh cahaya putih kebiruan tipis yang berasal dari layar ponselnya. Dengan spontan Kagome turun dua anak tangga, sehingga cukup untuk menyembunyikan keberadaannya dari penglihatan Kikyo. Setelah dia sudah tidak mendengar lagi derap langkah Kikyo di lorong atas dengan terburu-buru dia masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya dengan perlahan, dia bersandar di pintu. Pandangannya menjelajah meneliti barang-barang di kamarnya, tanpa yakin apa yang dia cari.

Apa yang Kikyo lakukan di dalam kamaruku? Apa yang dia cari? Apa dia mencariku? Bila memang dia mencariku, mengapa dia tidak melongokkan saja kepalanya dari pintu dan pergi saat dia melihat aku tidak ada di dalam kamar. Aku yakin walau sekilas, aku melihat dia tersenyum saat melihat layar ponselnya. Oh ponselku!

Kagome duduk di tepi tempat tidur, dia yakin menaruh ponselnya disamping lampu tidur di atas meja di samping ranjangnya. Kini ponselnya tergeletak dekat jam wekernya, letaknya sedikit berubah. Kagome mengutak-atik ponselnya, meski tidak yakin apa yang dia cari. Dia hanya memasang kunci geser, sedikit merasa menyesal mengapa dia tidak memasang pin atau pola sebagai pengaman. Hentikan Kagome! Apa sih yang aku pikirkan? Tetaplah berpikir positif oke, pikirnya.

Selesai berpakaian, dia membuka jendela kamarnya. Lagi-lagi tenggelam dalam lamunan. Dia terpaku di tempat saat samar-samar mendengar suara kakaknya yang sepertinya terlibat pembicaraan di telepon dengan seseorang, dan mereka sedang membicarakannya. Dadanya berdegup kencang, dia memasang telinganya baik-baik. Tanpa perlu banyak usaha dia bisa mendengarnya, kamar Kikyo tepat disamping kamarnya dan dengan jendela terbuka lebih memudahkannya untuk menguping pembicaraan mereka. Memang menguping tidak baik, tapi dia merasa perlu tahu bila namanya disebut olehnya.

Nada suara Kikyo terdengar lembut "iya, terdengar sedikit konyol tetapi..." ia terdiam sesaat.

“Itu akan sangat hebat, terima kasih. Aku akan sangat menghargainya" Kikyo tertawa kecil "Tidak, sepertinya Kagome akan pergi dengan teman-temannya" hening sesaat.

"Hai, arigato"

Siapa yang diteleponnya? Aku benci mempunyai pikiran buruk ini, tapi dialah satu-satunya pemicu. Sudahlah, aku harus melupakannya. Mungkin perasaan tidak enak ini hanya karena aku berada dalam masa pra menstruasi. Aku harus berhenti memikirkan Kikyo, dan buang semua pikiran buruk itu jauh-jauh.

E/N:   Fanfic ini awalnya untuk posting di Dokuga jadi bahasanya agak campur aduk, ga nyangka untuke revisi makan waktu yang ga sebentar.  Thanks buat yang udah baca, next chapter dari three-shots ini akan langsung di posting setelah selesai di revisi. Okay then, please enjoy and  don't forget to leave reviews. Let me now what you think okay *wink* Ja ne  ^^. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar