Selasa, 08 September 2015

Impact - Chapter II (Corrupted Thoughts)



Disclaimer: I don't own any of Inuyasha character in this story, Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi.

Cahaya matahari di sabtu pagi menghambur dari balik jendelanya, nyanyian suara burung bersahut-sahutan dikejauhan kali ini tidak teredam oleh bunyi suara kendaraan yang lalu lalang dikejauhan sana. Hal yang pertama dilakukannya setelah bangun adalah mengecek ponselnya, kekecewaan langsung mengalir di dadanya saat melihat layar yang kosong tanpa pemberitahuan adanya panggilan masuk ataupun pesan yang masuk. Kali ini dia marah pada dirinya sendiri, sejak kapan berteman dengan Sesshoumaru berubah menjadi pemujaan yang tidak sehat seperti ini? Dia mengakui kalau dia menyukai Sesshoumaru tapi itu bukan berarti dia harus terus mengecek ponselnya setiap satu jam sekali kan? Hubungan mereka memang dekat, tapi semua hal tentangnya hanyalah pecahan misteri emosi yang tak terselesaikan.

Baiklah, ku telah putuskan hal pertama yang harus kulakukan adalah meluruskan masalah itu dengan Kikyo.Aku rasa Inuyasha telah menjelaskannya, entah Kikyo percaya atau tidak karena terkadang dia itu bisa lebih keras kepala dariku. Dia tidak mudah percaya pada siapapun, tapi aku adalah adiknya, seharusnya dia percaya padaku. Aku menolak untuk tetap seperti ini, keadaan seperti ini sangat tidak nyaman. Terserah apa yang dia lakukan di kamarku kemarin, yang paling penting adalah masalah ini cepat selesai. Kagome menepukan kedua tangan di hadapannya “Yosh!”satu masalah akan berkurang hari ini hanya memikirkannya saja sudah membuatnya tenang, dia dan kakaknya tidak akan lagi harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Semuanya sudah berada di meja makan Kagome duduk disamping Kikyo yang sedang tertawa riang dengan kakek, mereka sedang menggoda Sota tentang Hitomi yang baru-baru ini bermain ke rumah. Kagome tersenyum, sepertinya suasana hatinya sedang baik aku akan mengajaknya berbicara nanti pikirnya.

"Kagome, apakah kau punya rencana hari ini?" suara ibunya lembut, dia meletakkan teh di meja untuk Kagome.

"Tidak ada mama, aku rasa aku akan benar-benar di rumah seharian. Kau mau aku bantu mengerjakan sesuatu ma?” ucapnya tulus.

"Maukan kau menolongku Kagome?" suara dan mata kakek penuh harap.

"Tentu kek" selama itu bukan mencari gulungan literature di gudang kuil pikir Kagome, dia tidak suka bau pengap dan debu disana tetapi tentu saja dia tidak akan menolak menolong kakeknya yang memberinya padangan penuh harap. Diam-diam dia menghela nafas, hari ini akan menjadi hari yang panjang pikirnya.

Setelah sarapan Kagome menepati janjinya untuk membantu kakeknya di gudang. Ruangan itu dipenuhi dengan bau kayu tua lembab dan debu yang mulai menebal. Disemua sisi ruangan itu dipenuhi dengan rak-rak kayu yang memunjung hingga hampir kelangit-langit, kakek mulai sibuk membuka kotak itu satu persatu setelah mengelap debu yang menyelimuti. Kagome mengambil kain lap yang lain lalu mulai meniru apa yang kakeknya lakukan. Kakeknya mulai bercerita panjang lebar tentang suatu benda sejarah yang saat itu dia bersihkan, Kagome setengah hati mendengarnkannya. Bagaimanapun dia tetap mengangguk untuk memberi kesan dia adalah pendengar yang baik.

He raised his head "number-two from the bottom shelf" while pointing to a shelf behind Kagome.

"Sepertinya matahari mulai terbit dari arah barat Kagome" katanya acuh tak acuh matanya masih tetap meneliti satu set piring antik yang berharga peninggalan sebuah keluarga dengan nama besar lebih dari 300 tahun yang lalu.

"Hah?" hanya itulah reaksi Kagome, sekilas dia tidak mengerti apa yang kakeknya maksudkan. Apa kakeknya sedang bercerita legenda yang lain lagi? Tapi tidak, yang terakhir di dengar kakeknya sedang bercerita tentang satu set perlengkapan makan yang ditinggalkan oleh sebuah keluarga dengan nama besar dua abad lalu yang sekarang menjadi milik kuil Higurashi.

"Kamu tahu apa yang aku bicarakan Kagome, kamu salah satu cucuku” tangannya masih mengelap barang antik di tangannya, dia seperti berbicara dengan piring antik kecil yang berat itu. Kagome masih menebak-nebak apa maksud kakeknya.

Tidak ada yang tidak bisa aku baca dari dirimu" lanjut kakeknya "Kau pendiam dan Kikyo menjadi riang" kali ini kakek menatapnya "sudah pasti kau tidak memikirkan tugas kuliahmu kan?" persis seperti tebakannya, sepertinya orang tua memang selalu tajam akan ketegangan situasi yang ada di sekitar mereka.

"Aku dan Kikyo" nadanya tidak seperti bertanya dia menggeleng "kami baik-baik saja kek” Kagome tersenyum lalu berpaling kikuk "kek, ini mau ditaruh dimana?" Kagome mengangkat guci antik sebesar kepala manusia yang telah dia masukkan kembali dengan aman kedalam kotak penyimpanannya.

“Rak nomor dua dari bawah di bagian kiri, samping pedang itu” kakeknya menghela nafas sambil menunjuk rak dibelakang Kagome.

Perlahan kakeknya menggelengkan kepalanya "Aku terlalu tua untuk melihat cucu-cucu tersayangku bertengkar" keluhnya.

"Kami tidak bertengkar kek" sela Kagome cepat "kakek jangan terlalu khawatir" kali ini kakeknya ikut tersenyum.

"Aku lega mendengarnya" dia sibuk membersihkan debu dari kotak lain "Kamu tahu kan dia selalu menyayangi dan melindungimu, aku ingat sekali saat Kikyo pulang dengan kaki dan tangan penuh luka jarena berkelahi dengan anak laki-laki tetangga saat umurmu baru 6 tahun" pandangannya menerawang tetapi tangannya terus bergerak.

Kagome tertegun dia ingat saat itu dia menangis karena rambutnya yang dikuncir dua ditarik-tarik oleh anak-anak laki nakal karena tidak mau meminjamkan mainannya, tak lama Kikyo datang membelanya dia berkelahi dengan anak laki-laki nakal itu. Kikyo berkelahi seperti anak laki-laki, dia tidak takut selama dia bisa membela adiknya, dan sejak saat itu anak laki-laki itu tidak berani menggangu Kagome lagi. Kedua sudut bibir Kagome terangkat membentuk senyum di wajahnya, ingatan itu membanjiri kepalanya.

"Bagaimana aku bisa lupa kek" dia memberi kakeknya senyum hangat.

Iya, benar. Bagaimana aku bisa lupa? Dia selalu melindungiku, dia selalu membelaku. Dia selalu ada sampai aku bisa membela diriku sendiri, tetapi semuanya berubah semenjak kami beranjak remaja. Entah mengapa dia seperti menjauhiku, dia seperti hidup di dunianya sendiri. Terkadang aku merasa dia membenciku, aku benar-benar tidak tahu apa yang telah merubahnya atau apa yang telah kuperbuat padanya yang membuat sikapnya berubah terhadapku.

Setelah selesai membantu sang kakek Kagome berteduh dibawah Goshinboku, angin bertiup semilir bayangan dedaunan bergerak dikakinya. Bunyi gemerisik daun tertiup angin seperti musik di telinganya, sangat menenangkan. Perbincangan dengan kakeknya membuatnya tekadnya semakin bulat untuk meluruskan masalahnya dengan Kikyo, Kagome memejamkan mata, dia memeluk kedua lututnya, kepalanya bersandar di pohon. Sinar matahari yang berhasil menerobos celah-celah daun, membelai lembut kulitnya dan kenangannya.

Ingatan itu berputar

Bel rumah berbunyi, Kagome membukanya ternyata Inuyasha yang ingin bertemu Kikyo. Kagome mempersilahkannya masuk setelah Inuyasha berkata dia akan menunggu Kikyo, yang sudah berjanji akan menemuinya disana. Saat itu Kikyo belum kembali dari mini market untuk membeli beberapa barang, ibunya sedang pergi ke sekolah Sota, dan kakeknya sedang sibuk di kuil melayani pengunjung yang datang dari jauh. Kagome sedang sibuk menyiapkan barang-barangnya, hari itu adalah hari terakhirnya dirumah. Besok dia akan pergi ke Kansai, tempat di mana dia kuliah. Walaupun sedang sibuk-sibuknya, dia tetap menemani Inuyash, akan sangat kasar bila dia tidak menemaninya. Bagaimanapun juga Inuyasha adalah laki-laki pertama yang memikat hatinya, dan dia adalah sahabatnya..

Inuyasha dan Kagome duduk di ruang tengah, pandangan Kagome terpaku pada tv tangannya mengganti-ganti tombol tv tanpa benar-benar menonton tv.

"Ayolah Kagome, tidak bisakah kau tetap pada satu channel? Kau membuat kepalaku pusing tahu!" suaranya terdengar jengkel Inuyasha merebut remote itu dari tanganmya tetapi Kagome berhasil menghindar, suasana kembali hening, Kagome akhirnya berhenti di channel talk show yang sangat membosankan untuk ditonton.

"Hei Kagome" Inuyasha terdengar ragu.

Dengan malas Kagome sedikit menoleh "Ada apa?" suaranya datar tanpa emosi.

"Apakah kamu harus pergi besok?" suaranya hampir tidak terdengar oleh telinga Kagome.

Argh, tidakkah dia mengerti bahwa aku tidak bisa melihat dia bersamanya bersama Kikyo kakakku. Tidakkah dia tahu perasaanku kepadanya stupid! teriak Kagone dalam hati.

"Perlukah kau bertanya?" pertanyaanya membuat Kagome jengkel.

"Maksudku kenapa kita tidak kuliah di universitas yang sama?",Inuyasha menatapnya dari seberang meja menanti jawabannya. “Tidak ada satu orang pun yang kau kenal disana, selain Sesshoumaru. Jelas dia diluar hitungan” Inuyasha memutar bola matanya “Gunung es itu tidak akan ramah kepada siapapun” gerutunya.

"Aku harus pergi" jawab Kagome cepat seakan tidak ada spasi diantara kata itu.

Kali ini Inuyasha tertunduk memandang daun teh yang mengambang dicangkirnya "Aku pikir aku akan kehilanganmu Kagome, kamu sahabat terbaikku" suaranya hampir seperti bisikan.

Kagome berpaling menatapnya tidak percaya apa yang dikatakannya. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya "Aku juga pasti akan merindukanmu Inuyasha" katanya tergagap.

“Tapi bagus, setidaknya kuping ku bebas dari suaramu yang mengganggu” senyum sombongnya terpahat lagi di wajahnya, Inuyasha yang menyebalkan telah kembali. Dia tidak pernah lama-lama membiarkan perasaannya terlihat jelas, dia menganggap menunjukkan perasaan hanyalah sebuah kelemahan. Bagaimanapun juga mendengarnya Kagome senang, sahabat yang disayanginya akan merindukannya walau tidak sebesar yang akan dia rasakan nanti.

“Bagus untukmu dan untukku, karena disana tidak akan ada sahabat menyebalkan yang akan menggangguku!” Kagome tidak mau kalah, dia pura-pura tersinggung.

"Keh. tentu saja tidak ada yang seperti aku disana" Inuyasha yang lama telah kembali.

" Iya tentu saja tidak ada orang yang menjengkelkan seperti kamu" sahut Kagome, Inuyasha tersenyum.

"Oi, ini untukmu" katanya sambil menjulurkan sebuah paperbag,

"Apa ini Inuyasha?" Kagome melongok isi paperbag

"Lihat sajalah!" perintahnya Inuyasha menggeser duduknya, kini ia disamping kanan Kagome. Kagome gasped, ditanganya terdapat sebuah bola salju. Benda itu seperti Snow globe, itu adalah sebuah toples kecil yang terisi cairan kental seperti minyak tetapi berwarna bening. Tutup toples itu di lem dengan lem super kuat, ini adalah snow globe buatan sendiri! Glitters silver berterbangan saat snow globe itu di goyang-goyangkan, sangat indah, dia bisa memperhatikan benda itu berjam-jam lamanya, memikirkan itu membuat Kagome tertawa, dia tidak ingin Inuyasha mengetahui fakta itu. Di dalam toples itu terdapat foto hitam putih favorit Kagome, foto dia bersama seluruh keluarganya dan Inuyasha yang sedang bersantai di ruang tengah. Dia sangat menyukai foto itu karena, semuanya begitu ceria, sangat natural, keadaan sehari-hari yang akan dia rindukan disana nanti.

“Aku sangat menyukainya Inuyasha, sangat" kata terakhir sangat ditekankannya, Kagome tersenyum memandang Inuyasha yang kini wajahnya memerah. Dia memandang cinta pertamanya, cinta tak berbalas karena Inuyasha mencintai Kikyo. Dia tahu itu, tapi dia akan bahagia bila melihat mereka berdua bahagia. Kagome menahan air mata, bibirnya bergetar. Inuyasha, orang yang sepertinya cuek, acuh, menyebalkan, membuat benda ini untuknya? Hal yang tidak pernah Kagome duga, tidak pernah dia harapkan orang menyebalkan sepertinya bisa membuat kejutan semanis ini.

“Aku sangat suka” Kagome menghambur kedalam pelukan Sahabatnya 'I love you Inuyasha' bisiknya dalam hati ‘karena itulah aku harus pergi jauh’ Kedua lengan Kagone melingkar di leher Inuyasha, satu tangan Inuyasha ragu membelai kepala Kagome.

“Kamu adalah sahabat ‘menyebalkan’ terbaikku”  Kagome bergumam di pelukannya.

Disaat bersamaan terdengar suara Kikyo bersamaan dengan itu sosoknya muncul dari ambang pintu, pelukan mereka dengan segera terlepas.

“INUYASHA!!!” Kikyo berteriak, sorot matanya yang penuh kebencian berpaling kepada Kagome.

"Apa yang kau lakukan, Ka-go-me?" Kikyo berjalan mendekati Kagome hanya bisa terpaku ditempat. Matanya memicing kali ini tangannya terkepal dia berhenti tepat di depan wajah Kagome, "Jangan katakan padaku" dia tertawa kecil "Kau masih belum bisa menerima bahwa Inuyasha hanya mencintai aku kan?" semburnya.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Kikyo" Inuyasha menengahi tatapannya bingung bagaimana melerai dua perempuan yang disayanginya.

“Kau, anak manis yang dicintai semua orang...” Kikyo menunjuknya dari ambang pintu, Kagome hanya bisa terpaku ditempat Kikyo mendekatinya dengan mata memicing.

Tangannya terkepal, dia berhenti tepat di depan wajah Kagome. “Ternyata kau hanyalah seorang pecundang yang suka menawarkan diri kepada pacar kakaknya” satu sudut bibir Kikyo terangkat, sebuah senyum yang dingin. Dia menunjuk wajah Kagome “Aku... benar-benar... membencimu Kagome!” setiap kata diucapkan secara perlahan namun tajam, kata-kata itu seakan berubah menjadi duri yang kini timbul di dalam dada Kagome.

Inuyasha kini berada di antara kedua kakak beradik itu “Aku sangat berharap kau tidak pernah dilahirkan!

Kagome bisa merasakan air mata mulai memenuhi matanya, dia bergegas bangkit berlari menuju kamarnya. Agar air matanya tidak jatuh dihadapan mereka, dadanya sakit. Sakit yang teramat sangat yang tak dapat diucapkan kata-kata, matanya perih menahan air mata yang mendesak ingin berhamburan dari matanya. Dia berlari menaiki tangga mengangkat kakinya yang terasa lemas dan terlalu berat untuk diangkat, jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari tubuhnya.

Dia mengunci pintu kamarnya, memeluk bantalnya yang kini basah terhujani oleh kesedihannya. Dadanya sesak nafasnya memburu, dia tidak berhak diperlakukan seperti itu. Dia tidak punya hak untuk berbicara seperti itu, Kikyo tidak berhak! Tubuh Kagome berguncang, ia tetap memeluk erat bantalnya, mengapa dia begitu tega padanya? hanya melihat mereka bersama saja sudah membuat dia hancur, kenapa?

End of flashback

Tekadnya sudah bulat, dia harus meluruskan salah paham ini. Dia mencari kakaknya di kamarnya tapi dia tidak bisa menemukannya, ibunya bilang bahwa Kikyo sedang pergi keluar ada seuatu yang harus dia beli. Setelah makan siang pun Kikyo belum muncul, Kagome memutuskan untuk menunggu dikamar ibunya sudah berjanji akan memberitahunya jika Kikyo sudah pulang. Masalah ini tidak boleh tertunda lagi, harus segera diluruskan, dia tidak mau menghabiskan liburannya dengan perasaan yang tidak tenang pikirnya.

Langit mulai berwarna kemerahan saat Kagome terbangun dari tidurnya, sial aku ketiduran lagi kasur ini terlalu nyaman untuk sekedar berbaring melepas lelah. Dia meraih ponselnya, dia putuskan untuk menghubungi Sesshoumaru. Sesekali menunjukkan perasaanmu tidak akan membunuhmu kan? Pikirnya. Satu, dua kali dia coba nada panggilan sambung hanya saja belum di jawab. Ketiga kali dia mencoba nada sambung itu berubah menjadi nada sibuk, dia memutuskan untuk mencoba lagi nanti. Mungkin saat ini dia sedang sibuk seperti apa yang dia katakan saat itu, dia sibuk untuk membicarakan suatu hal penting yang harus dia urus dengan ayahnya. Dia sibuk, sangat sangat sibuk?

Dia bangkit merapikan diri bergegas hendak turun, baru saja dia menutup pintu kamar suara tawa Kikyo terdengar dari kamarnya yang persis disamping kanan kamar Kagome. Dia bimbang sejenak apakah dia akan mengetuk pintunya dan mengajaknya berbicara sekarang, tatapannya terpaku pada pintu kamar Kikyo kaki kananya sudah melangkah tetapi dia berbalikarah. Dia  merasa akan menganggu kakaknya yang sedang asyik mengobrol di telepon. Lagi-lagi langkahnya terhenti suaraanya terdengar jelas walaupun dibatasi pintu,

"Tidak apa-apa Sesshoumaru dia tidak tahu" Kikyo tertawa kecil "belum"

"Menurutmu begitu? hening sesaat "dia tidak akan marah kepadamu" Kikyo menggumam "hai... arigato, ja"

Nafas Kagome seperti tercekat walaupun kenyataannya nafasnya memburu, dadanya bergerak naik turun emosi mulai meluap didalamnya. Kepalanya berdenyut-denyutb seakan bom waktu yang akan menanti detik-detik terakhir ledakan, tangannya terkepal tanpa ragu dia mengetuk pintu,menggedor pintu lebih tepatnya. Tak berselang lama pintu terbuka, Kagome langsung menghambur masuk.

"Apa yang kau lakukan?" nadanya pelan tapi tajam, Kikyo sedang duduk diujung ranjangnya masih dengan ponsel di genggamannya dia hanya menoleh tanpa merubah posisi duduknya untuk benar-benar mengahadap Kagome.

“Duduklah bersamaku Kagome” Kikyo menepuk-nepuk kasur disampingnya, mempersilahkan Kagome untuk duduk.

“Apa yang kau lakukan, kakak?” tanyanya lagi, rahangnya mengeras.

"Kau yang masuk ke kamarku Kagome, seharusnya akulah yang bertanya?" wajah Kikyo bingung, namun suaranya setenang biasanya.

"Kamu baru saja menelepon Sesshoumaru kan?" nadanya meninggi, dia menerima telepon dari Kikyo dan tidak mempunyai waktu untuk meneleponku? kemarahan Kagome memuncak.

"Aku.." belum sempat Kikyo menyelesaikan kalimatnya Kagome memotongnya kata-katanya meluncur begitu saja tanpa sempat dia pikirkan. Semua hal selama ini yang dia tahan untuk tidak terucap, semua hal yang begitu ia coba untuk hapuskan dari pikiran dan hatinya. Kini menghambur keluar bagai pisau tajam siap menusuk hati kakaknya, dia akan menyakitinya saat ini sama seperti yang kakaknya lakukan dulu.

"Hentikan semua omong kosong ini, aku sangat muak denganmu dan dengan semua kesempurnaanmu" dia mulai berteriak "aku sangat membencimu" matanya menyipit kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya.

"Apakah kau lupa apa yang kau katakan kepadaku enam bulan lalu?” suaranya pecah karena kemarahan sudah menguasainya. “Kamu menuduhku menawarkan diri pada Inuyasha saat kami hanya menyampaikan salam perpisahan?” suaranya penuh ejekan. “Apakah kau lupa sebelum dia menjadi pacarmu, dia adalah sahabatku” kedua tangannya bersilang di dadanya, Kagome menutup diri.

“Dari hari pertama aku kembali kerumah ini kau bertingkah seperti tidak ada yang terjadi diantar kita, seakan-akan kau adalah orang yang sama yang selalu menyayangiku. Kau adalah si kakak sempurna yang selalu menyayangi adaik-adiknya, dan selalu melindungi mereka” Kagome tersenyum pahit, dia menutupi kedua matanya dengan satu tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi masih di pinggangnya.

Dia menurunkan tangannya, menatap Kikyo dalam-dalam “Jangan bilang kau lupa pernah mengatakan kau membenciku, sangat membenciku dan berharap aku ini tidak pernah dilahirkan.. “ Kagome menelan ludah, menahan keinginannya untuk menangis tanpa dia sadari. “Semua perbandingan yang mereka lakukan sudah cukup buruk, dan kamu tidak tahu betapa aku berharap..”kata-katanya seakan tersangkut di tenggorokannya. “Aku sangat berharap tidak pernah dilahirkan sebagai adikmu!!!” wajahnya memerah karena marah.

Kikyo berdiri, kesedihan terpancar dari wajahnya "dengarkan aku Kagome.." kedua tangannya terulur ingin menggapai tetapi Kagome melangkah mundur .

"Jangan" bentaknya dia membuang muka mundur selangkah "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu lakukan saat ini kakak? Kamu sudah sangat melukai aku dulu tentang Inuyasha...” Kagome menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Dan saat aku merasa telah menemukan kebahagiaanku yang lain sekarang, kau.." Kagome menatap dingin seakan seluruh tenaganya telah mencapai batas terendah "apakah kau takkan puas bila ada satu inchi bagian hatiku yang tidak kausakiti hah?" matanya mulai panas dia tahu beberapa detik lagi pertahanannya akan runtuh tetes kesedihan akan mengalir deras dan dia tidak mau kakaknya melihatnya.

Dia tidak ingin terlihat lemah karena dia memang tidak lemah. "Aku mengerti" suaranya bergetar oleh kesedihan dia berbalik lari masuk kembali kekamarnya, memendamkan wajahnya kebantal untuk meredam isak tangisnya. 

‘Hentikan itu Kagome, jangan menangis!’ Kagome bangun dari ranjangnya, dia menghapus jejak air mata yang berhasil keluar di pipinya. Dia tidak akan menangis lagi karena masalah sepele, dia mengambil jakaetnya dan dompetnya. Dia memutuskan untuk pergi keluar, di depan pintu dia bertemu ibunya yang baru saja akan memasuki rumah.

"Aku pergi keluar sebentar mama" kepalanya tertunduk poni menutupi matanya, ibunya hanya memandanginya berlalu.

"Kembalilah sebelum makan malam Kagome" ujar ibunya

Kagome berjalan menuruni tangga angin sore menerpa wajahnya, matahari mulai menghilang dari balik gedung. Dua burung kecil terbang ke arah pepohonan saat Kagome menuruni anak tangga tempat mereka bercanda riang, pemandangan yang indah sisa-sia kehangatan matahari di senja yang indah belum bisa mengusir kekacauan di pikiran dan hati Kagome. Dia tidak tahu kemana dia hendak pergi, yang dia tahu hanyalah dia harus pergi. Dia harus melepaskan diri dari aura tak menyenangkan dirumah bersama kakaknya, dia hanya mengikuti kemana kaki membawanya, kaki yang rasanya terlalu berat tuk melangkah. Dia berjalan dengan gontai sekuat tenaga menyeret kakinya, kepalanya tertunduk tetes air mata jatuh. Detak jantungnya masih berdetak kencang dia memutuskan untuk duduk sebentar di bangku sudut taman yang ia lewati. Matanya menerawang jauh kedepan tidak ada lagi ruang kesedihan yang terpancar dari matanya, hanya amarah yang membara di wajahnya.

Dia menghela nafas kemudian menarik dalam-dalam udara lebih banyak lagi ke paru-parunya. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat masa-masa terbaik hidupnya. Hal yang percuma karena disaat terbaik hidupnya adalah waktu bersama keluarga dan para sahabat, dan hal itu tentu saja membawa ingatannya kembali kepada Kikyo, dan masalahnya. Dia membuka mata, saat sebuah suaran yang dia kenal memanggil namanya.

“Kagome..” suara seorang pria yang dikenalnya memanggil.

-----******-----

End Notes: Kakak beradik berebut perhatian laki-laki yang sama, itu lagu lama ya kan? :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar